Gencarkan Diversifikasi Pangan Lokal, Papua Barat Inisiasi Gerakan Dua Hari Tanpa Nasi

Baru-baru ini, Penjabat Gubernur Papua Barat, Ali Baham Temongmere mengimbau seluruh masyarakat Papua Barat untuk tidak mengonsumsi nasi selama dua hari. Imbauan tersebut dikeluarkan dalam instruksi nomor 100.3.4/766/GPB/2024 tentang gerakan dua hari tanpa mengonsumsi nasi.

Melalui instruksi tersebut, Ali berharap agar masyarakat bisa mengurangi ketergantungan terhadap beras serta menggantinya dengan komoditas pangan lokal yang ada di wilayah Papua Barat. Dilansir oleh Warta Ekonomi, Yacob Fontaba, PJ Sekretarias Daerah Papua Barat, menyebutkan bahwa kebijakan dua hari tanpa nasi itu berlaku pada setiap Senin dan Kamis.

Sebagai pengganti, masyarakat bisa mengonsumsi apa saja dari varian pangan lokal yang ada. Gerakan dua hari tanpa ini wajib dilaksanakan oleh seluruh aparatur pemerintah daerah, kementerian/lembaga, BUMD, BUMN, pihak swasta, serta komponen masyarakat yang tersebar di tujuh kabupaten Papua Barat, mulai dari Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Teluk Bintuni, dan Kabupaten Teluk Wondama.

Baca juga: Zelfbestuur: Intuisi Berkesucian Nusantara

Tak hanya itu, untuk mewujudkan pengurangan konsumsi beras, Ali juga menginstruksikan agar setiap acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, kementerian/lembaga, BUMD, BUMN, dan pihak swasta wajib menyediakan menu makanan berbasis pangan lokal selain nasi sebagai alternatif pangan yang selama ini menjadi andalan utama.

“Semua produk yang bahan dasarnya beras diganti dengan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat seperti sagu, pisang, jagung, dan umbi-umbian,” ungkap Yacob.

Instruksi gerakan dua hari tanpa nasi ini pun sudah diteruskan kepada tujuh pemerintah kabupaten di Papua Barat. Setiap kabupaten diwajibkan melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada masyarakat di masing-masing wilayah.

Sebagai upaya untuk semakin mengoptimalkan gerakan dua hari tanpa nasi atau produk turunan dari beras, pemerintah daerah juga membutuhkan dukungan dari tokoh adat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat. Yacob juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah akan melibatkan pelaku usaha perhotelan dalam mengampanyekan gerakan dua hari tanpa makan nasi.

Perlu diketahui bahwa sebelumnya Pemerintah Provinsi Papua Barat telah menggaungkan kreasi menu pangan lokal yang beragam, bergizi seimbang, serta aman. Hal tersebut juga dilakukan melalui penyelenggaraan lomba yang bisa memotivasi seluruh lapisan masyarakat.

Harapan dari lomba kreasi tersebut yakni mendorong adanya peningkatan kemampuan masyarakat mengolah beragam menu bergizi untuk dikonsumsi sehingga program diversifikasi pangan lokal tercapai sesuai ekspektasi. Di sisi lain, hal ini juga akan merangsang pentingnya kemandirian pangan bagi masyarakat setempat. (ABK/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *