Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jangan Sampai Hanya Bahan Seremonial

Oleh : Anik Meilinda

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada setiap 5 Juni seyogyanya akan mengingatkan kita untuk selalu bersikap baik kepada lingkungan. Peringatan ini mungkin tak seterkenal perayaan Hari Pendidikan atau Hak Asasi Manusia, namun tidak elok juga jika kita melewatkannya begitu saja, apalagi hanya sebagai bahan seremonial semata.

Jika banyak pendapat, peringatan itu tidak penting. Membuat banyak flyer ucapan-ucapan hari-hari tertentu juga tidak perlu. Mereka salah, meskipun baru berhenti di ucapan dan tulisan. Setidaknya mereka telah berani satu langkah lebih di depan, yakni berkampanye. Akan tetapi, kritik itu juga senantiasa mengingatkan kita agar jangan hanya berhenti di ucapan. Tentu saja, aksi nyata lebih penting.

Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia

World Environtment Day ditetapkan pada Konferensi Lingkungan Hidup yang diadakan di Stolcholm pada tahun 1972. Ada 113 negara yang menghadiri konferensi itu, termasuk Indonesia. Negara yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia dan salah satu paru-paru dunia ini tentu saja merasa turut beratanggung jawab atas keberlangsungan planet ini.

Selain penetapan peringatan tersebut. Konferensi yang dilaksanakan dari tanggal 5-16 Juni 1972 ini juga melahirkan sebuah badan PBB untuk lingkungan hidup yang disebut United Nations Environment Programme (UNEP). Badan ini bertugas mengoordinasikan kegiatan lingkungan global, serta membantu negara-negara berkembang dalam menerapkan kebijakan ramah lingkungan.

Konferensi ini terus dilaksanakan hingga sekarang. Tahun ini World Environtment Day mengangkat slogan “Our land. Our future. We are #GenerationRestoration”. Dikutip dari katadara.id, tema ini menyorot bahwa memulihkan ekosistem bumi memerlukan tindakan kolektif dan tanggung jawab individu. Hal ini mendorong semua orang untuk berkontribusi terhadap solusi.

Beberapa kontribusi kita untuk mendukung penyelamatan lingkungan

  • Kampanye di media sosial

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini bisa kita manfaatkan untuk lebih gencar menyampaikan kampanye terkait kepedulian terhadap lingkungan. Isu-isu yang bisa kita sorot lebih tajam, misalnya krisis iklim, polusi, ketahanan pangan, keanekaragaman hayati, dan kehidupan yang berkelanjutan.

  • Malaksanakan aksi

Momentum ini harus dimanfaatkan berbagai kalangan, lembaga, dan komunitas untuk menyerukan aksi. Misalnya mengadakan penanaman pohon, recycle, bersih-bersih lingkungan, mengadakan forum cinta lingkungan, dan lain sebagainya.

  • Menerapkan hidup berkelanjutan

Maksudnya apa? Hidup berkelanjutan adalah segala tindakan kita saat ini sebisa mungkin tidak memberikan dampak negatif bagi generasi selanjutnya. Misalnya hidup minim sampah, gaya hidup minimalis, pola konsumsi makanan bersih-langsung dari alam atau hanya melalui satu kali proses pemasakan, dan lain sebagainya.

Lagi pula, peringatan ini seharusnya dapat mengingatkan masayrakat dan company untuk menerapkan hidup ramah lingkungan di setiap tindak-tanduk kebijakan dan operasional.

  • Menyoroti prestasi yang membangun

Kenapa juga kita harus menyorot prestasi terkait lingkungan? Karena dengan hal itu bisa  memberikan motivasi bagi orang lain. Please, jangan berita buruk terus yang dinomorsatukan, prestasi yang membangun juga harus disuarakan. Dengan berbagi praktik baik dan kisah sukses seseorang, dirapkan akan memecut motivasi dan mengispirasi.

Memulai praktik baik di Idul Adha Tahun ini

Siapa yang sudah mulai mengurangi penggunaan plastik? Baik dari diri sendiri atau dengan membuat regulasi di lingkungannya, keduanya adalah upaya baik yang harus didukung. Nah, karena Indonesia kebanyakan warganya adalah muslim, perayaan Idul Adha tentu memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan.

Idul Adha pasti diikuti dengan kegiatan penyembelihan hewan kurban yang kemudian dagingnya dibagikan yang membutuhkan. Sayangnya, tradisi mulia ini kerap kali disertai  peningkatan penggunaan plastik, yang muaranya yakni berkontribusi memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.

Kementerian Peternakan (2023) memperkirakan konsumsi hewan kurban di tahun 2023 kemarin sebanyak 1.743.051 hewan, yang terdiri dari sapi, kambing, domba, dan kerbau. Lalu, menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kelautan (KLHK, 2023) jika dalam praktiknya masih banyak masyarakat yang menggunakan plastik sebagai wadah pembagian hewan kurban, maka akan ada sekitar 119 juta lembar kantong plastik sampah yang dihasilkan.

Pada tahun 2023, KLHK telah menurunkan peraturan berupa Pedoman Pelaksanaan Idul Adha Tanpa Sampah Plastik SE.6/MENLHK/PSLB3/PLB.3/6/2023 dan menyarankan masyarakat untuk menggunakan wadah alternatif pengganti kantong plastik untuk daging kurban. Namun, menjaga planet ini bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tugas kita bersama. Sinergi antara masyarakat, komunitas, lembaga swasta, dan pemerintah akan menghasilkan sebuah aksi yang efektif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *