Diversitas Persoalan Generasi Muda dan Cara Menghadapinya: Sebuah Refleksi Said Nursi

Oleh: Ahmad Bagus Kazhimi

Generasi muda merupakan potensi tersendiri bagi masa depan suatu negara, tak terkecuali bagi Indonesia. Ditambah lagi, Indonesia akan mendapat bonus demografi pada tahun 2045 mendatang. Sebuah kondisi di mana mayoritas penduduknya merupakan penduduk usia produktif. Jumlah generasi muda yang sangat melimpah ini tentu bisa menjadi kekuatan tersendiri jika mampu dikelola dengan baik.

Semangat yang membara, kegigihan dalam menggapai cita-cita, dan kematangan intelektual merupakan beberapa citra yang menggambarkan seorang pemuda. Di lain sisi, masa muda juga menyimpan keberanian untuk mencoba berbagai hal yang membuat mereka penasaran, bahkan jika hal itu berakibat buruk bagi mereka atau tidak diperkenankan oleh agama.

Pergaulan yang luas juga terkadang membuat pemuda lupa akan jati dirinya. Kegamangan juga menjadi ciri utama generasi muda. Hal ini biasanya tampak dari proses mencari jati diri dengan mengikuti berbagai agenda, mulai dari kegiatan sosial, politik, budaya, hingga keagamaan.

Dalam rangka membentengi generasi muda dari hal-hal buruk yang bisa menimpa atau membuatnya terjerumus ke dalamnya, Badiuzzaman Said Nursi memberikan sudut pandang bagaimana menjadi seorang pemuda yang tak kehilangan jati diri dan kehormatannya sebagai seorang muslim, tanpa menutup diri dari pertemanan dan pergaulan lintas agama, suku, ras, dan bangsa.

Dunia Yang Fana dan Beragam Tipu Dayanya

Dalam beberapa tulisannya, Badiuzzaman Said Nursi dengan jelas mengingatkan kepada generasi muda agar tidak terjebak dalam tipu daya dunia. Adapun jenis tipu daya tersebut bisa bermacam-macam jenisnya, mulai dari jabatan atau kekuasaan, harta benda, maupun wanita.

Sejalan dengan hal itu, Naguib Mahfouz juga pernah mengatakan dalam salah satu tulisannya bahwa masa muda, kesenangan, dan harta benda duniawi seringkali membuktikan kehancuran manusia, karena hal ini bisa membuat seseorang lalai akan apa misi hidup mereka sebenarnya.

Lebih lanjut, Badiuzzaman Said Nursi banyak memberi permisalan, sebagai salah satu dari ciri khas Risalah Nur, bahwa kesenangan dan kenikmatan duniawi yang kita rasakan sebenarnya hanya beberapa saat saja dibanding penyesalan kita di kehidupan akhirat nanti.

Sebagai contoh, saat kita membunuh orang lain karena amarah yang memuncak dalam diri kita, kepuasan yang muncul ibarat kilatan cahaya sekejap dari petir yang kemudian mengundang awan hitam pekat sebagai tanda sekaligus permulaan sebelum turunnya hujan.

Begitu pula terjadi dalam seseorang yang telah membunuh saudaranya. Setelah tercipta rasa lega dan puas, pembunuh tersebut kemudian akan menghadapi pengadilan atas perbuatan itu, lalu kemudian ia akan mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama.

Tak cukup sampai di situ, dalam hari perhitungan nanti hal itu juga akan membuatnya menyesal tiada henti karena pengadilan Allah SWT pasti akan memberi balasan dari apa yang telah ia lakukan. Bukankah setiap kebaikan akan diberi balasan kebaikan pula, dan keburukan akan mendapatkan balasan berupa keburukan pula?

Baca juga: Secrets Of Divine Love, Buku Wajib Buat Kamu yang Lagi Galau

Bagi para perempuan, Badiuzzaman Said Nursi juga memberi peringatan dalam beberapa risalahnya di buku ini. Beliau bahkan menulis risalah yang berisikan nasihat kepada perempuan agar tidak menjual kehormatannya demi kepuasan duniawi.

Di sisi lain, Said Nursi juga berpesan agar para perempuan tidak berpakaian, tetapi telanjang. Maksudnya ialah mereka berpakaian, tetapi terbuka auratnya di banyak tempat, yang mana hal itu mengundang syahwat terhadap lawan jenisnya.

Iman Sebagai Senjata Terampuh dan Benteng Terkuat

Huru-hara akhir zaman sering kali membuat manusia, khususnya generasi muda, terlena akan tempat asal muasalnya. Semakin hari, manusia terlihat semakin tidak mengenali dari mana ia berasal dan kemana ia akan kembali.

Banyaknya persoalan duniawi sangat menyibukkan mereka, sehingga tak sedetik pun mereka ingat kepada wajib al-wujud yang membuatnya ada, yakni Allah SWT. Kesadaran akan ketuhanan atau kesadaran Ilahiah ini disebut Sangkan Paraning Dumadi dalam teori masyarakat Jawa terdahulu.

Agar mencapai kesadaran itu, tentu butuh beberapa sarana, dan sarana pertama dan utamanya ialah dengan iman. Badiuzzaman Said Nursi sendiri membahas soal pentingnya iman sebagai senjata terampuh dan benteng terkuat, seperti istilah yang digunakan beliau di banyak tempat dalam buku ini.

Beberapa bagian yang menekankan akan pentingnya iman dalam buku Tuntunan Generasi Muda ini salah satunya termaktub dalam bagian berjudul “Bagaimana Menyelamatkan Akhirat Kita?”, “Dialog dengan Sekelompok Pemuda”, “Persoalan Besar”, “Iman adalah Pelipur Lara”, dan lain sebagainya.

Untuk menghadapi persoalan besar yang akan segera datang, yakni fitnah akhir zaman dan tipu daya dunia. Betapa pun keras usaha manusia dalam melawan itu semua, mereka tetap membutuhkan kekuatan lain yang lebih besar, yaitu iman.

Adapun iman yang dimaksudkan oleh Said Nursi ialah iman yang telah menancap di hati dan terejawantahkan dalam laku sehari-hari, sehingga ia takkan goyah lagi oleh pengaruh dari luar. Contoh sederhana dari hal ini adalah saat Sayyidina Ali tak merasakan adanya panah yang menembus kakinya di waktu salat. Atau dalam bahasa tasawuf iman yang telah mencapai haqqul yaqin.

Editor: Anik Meilinda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *