Harga Jagung Tak Sesuai Harapan, Petani di Sumbawa Menjerit

Lebih besar pasak dari pada tiang merupakan gambaran kondisi petani jagung di Sumbawa saat ini. Pasalnya, pasca panen para petani bukannya balik modal, tetapi justru harus dibebani dengan hutang pupuk dan lain-lain. Hal tersebut sebagaimana diceritakan langsung oleh Andi Aziz, petani asal Desa Batu Tering.

To ta anak, kami Kelola 3 hektar tana, sopo hektar ta mule baso sekita 8-10 ton, untuk biaya penanaman bae anak, bue 10-12 juta. Harga seopo kilo baso pang Smawa kita ta anak, hanya 3.700 rupiah. Baa no bau balik modal dean anak ee (Sekarang ini nak, kami mengelola kurang lebih 3 hektar tanah (untuk menamam jagung), satu hektar sekitar 8-10 ton hasilnya,  dalam 1 hektar kami butuh sekitar 10-12 juta untuk modal. Harga jagung hanya Rp3.700 di Sumbawa, tidak bisa balik modal kami.)

“Jadi anak, lanjutnya, nonda sama sekali untung kami, de ada malah utang pupuk, untang loto jangan ke srea riri. Smata nda usaha kesejahteraan tawa petani karis srea diri ana.” (Jadi nak, tidak ada keuntungan yang kami dapat, malah kami masih harus menanggung utang pupuk, utakng beras, ikan, dan sayuran serta masih banyak lagi utang yang kami tanggung. Tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk kesejahteraan petani di Sumbawa), cerita Andi kepada tim Koran Peneleh.

Para petani berharap pemerintah Kabupaten Sumbawa berani mengambil sikap serta memiliki komitmen ke depan untuk membangun kesejahteraan petani.

Kami ta sedi si de tu harapkan, penting bau ada tawa kami tiap panen, ada kenang ya kami sekolah srea anak dadi kami ta.” (Kami tidak mengharapkan banyak hal, yang penting setiap kali panen kami memiliki sedikit saja keuntungan agar bisa menyekolahkan anak-anak kami, cukup itu saja), harap Andi.

Beliau menambahkan, lako angkang tentu tu harapkan de paling balong untu petani ta, nom kasa Sejahtera lalo, cukup ada tawa sedi tiap panen, cukup mo ya sesuai harapan harga baso kami, insyaallah kami Bahagia nda janga. (Ke depan kami mengharapkan yang terbaik, tidak perlu kesejahteraan tinggi petani, cukup ada keuntungan sedikit saja setiap kali panen, cukup harga sesuai dengan harapan, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi kami para petani.)

Para petani di berbagai desa di Sumbawa mengharapkan pemerintah yang akan datang mampu membangun kesejahteraan petani, serta mampu membangun infrastruktur yang memadai untuk pertanian. Sumbawa merupakan wilayah dengan bentangan alam yang luas dan kaya. Pertanian menjadi salah satu harapan bagi perekonomian warga Sumbawa.

Hal tersebut disampaikan oleh Tulus Ikhlas, Aktivis Peneleh Sumbawa, dalam kesempatan wawancara dengan tim Koran Peneleh.

“Sumbawa memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Jika pemerintah Sumbawa mampu mengelolanya melalui tangan para petani, ini akan menjadi emas bagi Sumbawa di masa depan. Untuk itu, yang harus kita bangun ialah kesejahteraan petani, menyiapkan SDM yang paham dengan Sumbawa, serta menyiapkan infrastruktur yang memadai,” ungkap Tulus.

Baginya, momentum pemilihan kepala darah harus menjadi kemenangan bagi para petani di Sumbawa.

“Hampir 90% masyarakat Sumbawa berprofesi sebagai petani, harapan kami sebagai pemuda sekaligus anak-anak petani di desa, pilkada tahun ini harus menjadi momentum kemenangan petani di Sumbawa. Artinya, siapa yang pro petani dan perbaikan alam harus kita dorong untuk menjadi pemimpin,” ujar Ketua Kaderisasi Aktivis Peneleh tersebut.

Walaupun, lanjutnya, jika kita melihat dari tahun ke tahun, hampir seluruh calon mendeklarasikan diri terhdap keberpihakan mereka ke petani, namun dalam ruang-ruang konkret, belum ada yang mampu mengangkat kesejahteraan petani. “Tahun 2024 ini kita harus hati-hati dalam menentukan pilihan, jangan sampai terjebak oleh janji-janji manis,” tutup Tulus dalam sesi wawancara. (ABK/Red)

Baca juga: Kericuhan Diskusi People’s Water Forum: Upaya Melawan Privatisasi Air dan Mencari Keadilan Bagi Masyarakat Setempat di Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *