Pesan Mutiara dari Sepotong Kue Lupis

Oleh: Genta Ramadhan

Di balik rasa manis dan legit yang terkandung di dalamnya, terdapat beberapa filosofi hidup yang bisa dipetik dan dijadikan pelajaran, serta bekal mengarungi kehidupan nyata dari sepotong kue lupis.

Kue lupis adalah salah satu jajanan tradisional asal Indonesia. Saat ini, kue ini masih digemari oleh masyarakat. Kue ini terasa manis dan legit bila disandingkan dengan gula merah dan parutan kelapa. Tidak menutup kemungkinan, mengingat kreativitas manusia dalam meracik makanan, ia dapat disandingkan dengan topping kekinian, seperti parutan keju, susu kental manis, dan hingga biskuit oreo.

Beras ketan merupakan bahan utama pembuatan kue tradisional ini. Biasanya kue ini berbentuk lonjong dan segitiga. Selain itu, kue ini diberi warna putih dan hijau, karena diberi pewarna daun pandan. Warna hijau yang melekat pada kue lupis memiliki kesan nyaman bagi pelanggan.

Proses pembuatannya sendiri terbilang sederhana dan menghemat biaya. Anda perlu menyiapkan beras ketan, air kapur sirih, dan daun pisang. Kemudian, bahan membuat saus gula merah ialah gula merah, air, gula pasir, dan daun pandan. Pertama, rebus beras ketan dan beri air kapur sirih agar kue lupis jadi kenyal. Pada saat bersamaan, rebus semua bahan saus gula merah dalam panci hingga semuanya larut.

Setelah dikukus, beras ketan dibentuk cetakan dalam daun pisang sesuai selera. Lalu, terbentuk cetakan kue lupis akan terbentuk segitiga atau lonjong. Jangan lupa taburkan parutan kelapa dan saus gula merah agar makanan terasa nikmat.

Setiap makanan yang diracik memiliki nilai filosofi kehidupan tersendiri. Ternyata kue lupis yang dianggap jajanan sederhana memiliki pelajaran hidup yang berharga. Berikut ini pelajaran hidup yang dapat dipetik dari kue lupis:

  1. Selalu Bersikap Jujur

Jujur merupakan pondasi kebahagiaan seseorang. Sebuah kue lupis mengakui bahwa ia memang sederhana, baik segi bahan, harga, maupun proses pembuatan. Selain itu, ia mengakui dirinya tidak bisa menyaingi kelezatan kue ulang tahun, yang sering dipakai untuk perayaan syukuran dan ulang tahun.

Di sinilah terkandung satu filosofi kehidupan, yaitu berani mengakui kelebihan dan kekurangan diri. Tidak lupa kue ini tidak merasa iri melihat keberhasilan rekannya, seperti kue bolu, kue black forest, dan kue brownies.

Kejujuran kue lupis ini membawa keberkahan. Berkat kecanggihan dan kreativitas manusia, saat ini varian kue lupis tidak hanya memakai parutan kelapa dan saus gula merah, melainkan juga menggunakan varian topping kekinian seperti coklat, kental manis, parutan keju, dan sebagainya tanpa melupakan jati dirinya.

  1. Bersikap Sederhana

Proses pembuatan kue lupis selalu dekat dengan pengukusan. Makanan yang dikukus jauh lebih sehat. Selain itu, kue ini tidak cocok digoreng dan dipanggang karena tidak sesuai dengan jati dirinya. Hal ini relevan dengan poin sebelumnya bahwa kejujuran terhadap diri sendiri merupakan sumber kebahagiaan terbesar.

Jika kita jujur terhadap diri sendiri, tentu kita bisa menjalani hidup sederhana tanpa harus mengikuti gengsi orang yang ujung-ujungnya menyusahkan diri. Perlu diketahui, tidak semua orang mampu mengikuti gaya hidup orang dan budaya pop yang terkesan meninggikan gengsi dan status sosial. Oleh karena itu, berlaku sederhana menjadi salah satu pesan moral yang harus ditiru.

  1. Sarana Belajar Menjadi Teman Sejati

Kesetiaan kue lupis dan saus gula merah merupakan contoh sempurna teman sejati. Saat dimakan bersama, rasa manis dan bahagia terbit dalam jiwa manusia. Teman sejati tidak melihat kekurangan rekannya, tetapi selalu membimbing dan menasihati rekannya kembali ke jalan yang benar. Dia tidak peduli seberapa besar tantangan mengajak orang agar senantiasa berbuat kebaikan.

Selain itu, hubungan kue lupis dan saus gula merah dapat dianalogikan sebagai pasangan hidup yang ideal. Bila kue ini dimakan tanpa gula merah akan terasa hambar dan tidak berwarna. Minum saus gula merah pun juga tiada rasanya tanpa kehadiran kue lupis.

Jadi, sudah selayaknya pasangan hidup senantiasa saling melengkapi kekurangan, mau berjuang bersama, dan selalu meningkatkan kualitas diri dan kasih sayang untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

  1. Tidak Kehilangan Harapan

Harapan menjadi alasan manusia terus berjuang tak peduli berapa kali diuji. Meskipun harga dan citra kue lupis dianggap ‘murahan’ bagi sebagian orang, toh orang banyak membelinya karena sederhana dan bisa mengisi keperluan hajatan keluarga dan organisasi. Sebab orang memandang kue lupis sebagai sarana untuk mewujudkan harapan meskipun beradaptasi dengan realitas kehidupan sekarang tidak mudah.

Hal ini relevan dengan kondisi manusia saat menghadapi fase krisis seperempat kehidupan. Manusia yang mengalami fase ini seringkali merasa cemas akan kehidupan masa depan, tidak punya tujuan, dan bahkan mempertanyakan eksistensi dirinya sebagai manusia.

Bahkan, ia merasa kalah dan iri melihat teman sebayanya sudah lebih awal mencapai impiannya. Masalah hidup ini wajar dialami oleh semua manusia. Namun, yang terpenting bagaimana cara kita memanfaatkan fase ini sebagai jalan untuk menemukan kekuatan terbesar yang selama ini tidak disadari sedari awal.

Kue lupis merupakan salah satu jajanan tradisional asal Indonesia yang memiliki makna filosofi kehidupan. Alih-alih dimaknai sebagai makanan, sebenarnya kue ini mengajarkan kita untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri, sederhana, kesetiaan, dan tidak kehilangan harapan.

Baca juga tulisan Genta lainnya:

Belajar Tiga Perkara Remeh Soal Toleransi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *