Pawang Hujan Sirkuit Mandalika, Kekayaan Budaya atau Kesesatan?

Perhelatan MotoGP baru saja selesai digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Turnamen motor terbesar di dunia itu sukses menyita perhatian dunia. Ada banyak catatan unik seputar kejadian yang terjadi di sirkuit Mandalika tersebut. Mulai dari keramahan penduduk lokal, keindahan rute Mandalika dan Lombok, kelezatan kuliner, hingga pawang hujan kontroversial yang viral di seantero dunia.

Perhelatan yang berhasil dimenangkan pembalap KTM Red Bull, Miguel Oliveira, tersebut menyisakan pro kontra di tengah masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, ada ribuan bahkan jutaan komentar akibat masifnya pemberitaan mengenai pawang hujan sebagai salah satu kunci sukses perhelatan itu.

Si pawang hujan terlihat hendak mengendalikan hujan ketika Sirkuit Mandalika diguyur hujan deras. Kenyataannya, balapan molor 75 menit akibat hujan deras itu. Mulai dari hujatan, bullying, hingga apresiasi muncul terhadap aksi Rara Istiani Wilandari, sang pawang hujan.

Di beberapa media online misalnya, kita menyaksikan betapa banyak komentar yang dilontarkan berbagai kalangan. Mulai dari masyarakat biasa, politisi, akademisi, hingga mubalig dan agamawan. Komentar yang lahir juga beragam, ada yang bernada keras, bersifat politis, pun lemah lembut.

Salah satu ustaz -tidak perlu saya sebutkan namanya- berkomentar bahwa hal tersebut adalah perbuatan syirik dan tak dibenarkan agama. Bahkan banyak juga yang dengan lantang mengharamkan. Namun, di satu sisi, tak sedikit yang membenarkan aksi heroik pawang hujan itu. Ada berbagai dalil, mulai dari kekayaan budaya, doa, dan lain sebagainya.

Bagi saya -orang yang hidup di kampung dan masih lekat dengan budaya leluhur- menyaksikan hal ini sebagai hal yang lumrah. Apalagi, jika bicara Indonesia Timur, barangkali hal tersebut sangat biasa. Bahkan, jasanya nyaris selalu digunakan di setiap acara masyarakat, baik pernikahan, acara adat, maupun ketika musim panen tiba. Tidak jarang, sesaji diberikan kepada alam sebagai wujud pengorbanan kepada Tuhan.

Selanjutnya, barangkali antara meminta hujan tidak turun dan meminta hujan tentu tidak beda hukumnya. Jika ditinjau dari sisi Agama Islam, ia memiliki caranya spesial untuk meminta hujan, hal itu disebut shalat meminta hujan (shalat istisqa’). Hal itu pun dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Hanya saja, yang perlu ditekankan, tempat kita meminta tetaplah Tuhan. Lalu, percaya hanya atas kehendak Tuhanlah semuanya terjadi, bukan semata-mata karena kehebatan manusia.

Terlepas dari pawang hujan di Mandalika kemarin, ternyata banyak juga negara yang sama-sama menggunakan jasa sejenis. Di antaranya adalah Afrika Selatan, Thailand, Inggris, dan Jepang. Meskipun negara yang terakhir saya sebutkan sangat terkenal dengan kemajuan teknologi dan pengetahuannya, toh praktik itu masih dipercaya tuh. Mereka menyebutnya, Teru-Teru Bozu.

Negara itu pun bangga menampilkan budayanya itu di berbagai karya. Mulai dari komik, film, anime, hingga media massa di sana. Ya, walaupun saya juga tidak tahu secara detail bagaimana konsepnya, yang jelas mereka tidak malu untuk menunjukkan budaya leluhurnya.

Secara lebih jauh, yang ingin saya sampaikan, bahwa keseluruhan budaya yang ada tergantung pada orientasi. Jika orientasi Ilahiyah, maka tidak ada persoalan. Itu menurut analisis saya, entah perihal analisis pembaca sekalian. Menurut hemat saya, kita tidak perlu dijelaskan lagi tentang peran budaya menyebarkan kepercayaan, menebarkan nilai-nilai, dan merawat kemanusiaan.

Kita ambil contoh agama Islam. Jika tanpa jalan kebudayaan, bisa jadi Islam tidak berkembang pesat di bumi Nusantara. Sunan Kalijaga misalnya, yang dengan kecerdasannya melebur bersama masyarakat dan budaya demi berdakwah. Perlu proses yang tidak singkat memang, tapi apakah kamu terima jika kebudayaanmu diusik oleh orang lain dengan tidak sopan? Tentunya tidak bukan?

Misalnya dengan mudah melontarkan perkataan “Budaya a, b, c itu haram dan syirik.” Yang ada, pulang berdakwah, bukan mendorong timbulnya hidayah, malah menyebabkan konflik dan prahara. Sunan Kalijaga telah membuktikan, jalan mengubah orientasi budaya kepada jalan Islam atau islamisasi budaya berhasil menebar benih-benih hidayah yang ia perjuangkan.

Maka, jika lebih jauh melihat pawang hujan MotoGP Mandalika, inilah salah satu wujud dari kekayaan budaya yang ada di Nusantara, kebetulan yang melakukan itu adalah orang Islam, jadi menggunakan metode kepercayaannya sendiri. Namun, menurut saya hal itu tidak bisa disebut kesyirikin, selama ia berorientasi ketuhanan.

Pertanyaan yang berkemelut di kepala saya adalah apakah setelah viral pawang hujan yang dibayar tiga  digit ini, akan menyebabkan generasi milenial mulai berpikir bahwa profesi ini menjanjikan? Wallahu a’lam bishawab. (Hendra Jaya/Red).

Baca juga:

Dr. Aji Ingatkan Perihal Pentingnya Jati Diri dan Jangkar Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *