Refleksi Moral Bagi Kaum Milenial

Oleh: Fahrizal Ubbe

Setiap lintas generasi tentu memiliki karakteristik di masanya, tak terkecuali bagi kaum Milenial. Kata ‘milenial’ yang ditemukan oleh dua pakar sejarah Amerika, William Strauss dan Neil Howe dari berbagai tulisan bisa kita temukan bahwa generasi ini lahir setelah generasi Y. Usianya 2000an keatas. Kata milenial ini sendiri menjadi pro dan kontra oleh beberapa kalangan. Karena stigma negatif yang dilayangkan kepada generasi tersebut. Hanya saja para pakar tetap mempertahankan kata milenial yang dapat kita ketahui dalam media bbc.com dengan judul Inikah saatnya kita berhenti gunakan sebutan milenial?

Terlepas dari pro dan kontra tersebut, bagaimana kita merubah stigma buruk itu dengan Moral. Karena yang terlihat baik luar dan dalam generasi ini cukup miris, ada kebablasan sikap dan perilakunya. Maka saya pribadi tertarik menulis mengenai moralitas ini. Tentu ini tidak mudah untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang, tetapi itu bisa dilakukan walapun kita membutuhkan waktu lama. Sebagaimana Rasulullah SAW ketika memperoleh wahyu, isi dari wahyu yang pertama ialah memperbaiki akhlak kaum arab pada saat itu yang sikap dan perilaku sudah kebablasan. Dimana Nabi Muhammad membutuhkan 13 tahun lamanya baru dapat menyelesaikannya. Oleh karena itu, disini kita bisa belajar bahwa generasi sekarang mulai detik ini harus mengutamakan Moral di atas segalanya. Mengapa harus Moral? Ini cara terbaik agar kita tak melakukan hal yang sama dilakukan oleh generasi yang sedang memimpin kemudian dia tertangkap atas skandal moral, apakah itu korupsi, prostitusi dan lain sebagainya.

Tentu kata refleksi ini bisa kita dapat dan sadarkan jika kita menimba ilmu pengetahuan yang bersandar dengan adab. Ini menjadi intropeksi bersama bagi generasi sekarang ini, yang kelak di kemudian hari akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan. Oleh sebab itu, dalam mempelajari ilmu perlu ada penalaran, seperti dalam karya tulisan Asy’ari berjudul Risalah fi Istihsan dalam buku Qadir al-Khaud fi al-Kalam, mengutip “ia menonjolkan arti penalaran, dan menekankan soal meditasi dan refleksi”.

Kata meditasi dan refleksi inilah yang sudah luntur dan hilang. Dalam setiap memperingati jejak sejarah yang ditinggalkan leluhur kita, termasuk hari guru ini yang boleh dikata sudah menggunakan konsep merdeka belajar. Bagaimana mau merdeka belajar? Kalau hanya yang di merdekakan soal skill dan kompetensi, dikemanakan moral/akhlak siswa?

Maka sebelum ada kata terlambat, saya mengajak kaum milenial atau generasi sekarang untuk melawan stigma publik dengan memperbaiki moral kita. Meminjam kata Dr. Fakhruddin Faiz pakar filsafat, yang rutin ngaji filsafat di salah satu masjid di Jogja. Beliau berkata, “Apalah arti Ilmu tanpa Akhlak yang ada kekanak-kanakan”. Maka ditimbang perlu kita refleksi moral untuk kaum milenial. Karena teknologi yang kita nikmati saat ini bukan dari kalangan beragama, maka tidak ada basis nilai yang dijaga.

Maka gerakan moral bisa terbangun oleh kesadaran individu dan dimana tempatnya bergaul. Bergaul sama siapa saja tidak jadi soal, hanya saja jika tempat bergaul membuat kita kehilangan moral itu yang jadi masalah.

Maka kita yang hidup di masa sekarang tidaklah jauh berbeda di masa kondisi zaman sebelumnya, lantas apakah perekembangan teknologi ini yang mulanya tercetus Revolusi Industi 1.0 (mesin uap air) hingga Revolusi Industri 4.0 (Internet of Thinking) membuat jaminan pada keberadaban moral dari manusia? Tentu tidak!

Sebagai tawaran dari refleksi moral kepada kaum milenial (sekarang), bagaimana kita dapat mampu menyeimbangkan antara pikiran dan hati ini dalam setiap gerak kita, dengan mampu mengendalikan nafsu/hasrat kebinatangan yang dimiliki. Seperti yang tertuang dalam buku Al-Ghazali berjudul Metode Penaklukan Jiwa: Pengendalian Nafsu dalam Perspektif Sufistik, bahwa cara beliau untuk memperbaiki moral dalam bukunya membagi dua bagian tema besar, yakni bagian pertama, Mendisiplinkan Jiwa, Mendidik Akhlak dan Mengobati Hati, kemudian pada bagian kedua Menaklukan Dua Nafsu.

Dari poin itulah menjadi bekal generasi milenial untuk membaca hasil karya Al-Ghazali, terlepas tidak melihat latar belakang beliau, bukan karena saya dan beliau berasal dari agama Islam. Cuma sejauh ini yang sangat dalam membahas soal moral adalah beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *