1 Tahun Kepergian: Menengok Kembali Jejak dan Perjuangan Abah Jombang

Tepat waktu Subuh, suasana hening di Pondok Pesantren tiba-tiba menjadi riuh. Sesak, tangis serta doa mengiringi kepergian sang kekasih Tuhan. Hadratusy syaikh Abah Jombang, KH. Muhammad Qoyim Ya’qub.

Satu tahun sudah beliau tengah memanen hasil juang selama di bumi. Kebahagiaan dan barangkali kesedihan juga beliau rasakan di alam sana. Kesedihan kalau-kalau saja kita melupakan jejak dan perjuangan beliau. Tentu maksud saya bukan hanya mengingat apa yang telah beliau lakukan dan perjuangkan. Akan tetapi, dalam melihat perjalanan seseorang, lebih-lebih tokoh pejuang seperti Abah Jombang, tidak boleh lepas dari refleksi konstruktif atas nilai juang yang beliau tinggalkan.

Selanjutnya, dari refleksi konstruktif tersebut, kita aksikan bersama secara konkret, terutama dalam menjawab tantangan keummatan dewasa ini. Abah Jombang, telah meninggalkan segudang cinta dan nilai juang yang harus diteruskan oleh santrinya.

Pertama, keikhlasan Abah Jombang dalam membersamai ummat di akar rumput. Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo (UW) Jombang, menjadi saksi perjuangan beliau membela hak-hak kaum mustadh’afin. Ribuan santri yang mondok di UW selain diberikan ilmu, ruang belajar, karir, juga diberikan kehidupan yang layak oleh beliau. Kita tahu, bahwa Abah tidak pernah membebani seorang santri dengan biaya. Bahkan, jika santri benar-benar tak mampu, beliau gratiskan, asalkan komitmen untuk belajar dan berjuang terus dijaga.

Berbeda halnya dengan banyak lembaga pendidikan sekarang, bahwa uang adalah segalanya. Peran Abah Jombang dalam melawa kapitalisasi Pendidikan patut diapresiasi dengan melanjutkan apa yang beliau lakukan. Saya membayangkan, dan barangkali Abah Jombang juga membayangkan, akan ada ribuan sekolah atau lembaga pendidikan seperti UW di seluruh Indonesia. Saya yakin, tidak akan ada satupun masyarakat di pelosok Indonesia yang berhenti sekolah karena alasan biaya. Tak akan ada satupun anak Indonesia yang tak bisa baca, nulis, dan hitung. Barangkali juga, tidak akan ada satupun di negeri kita, manusia yang tidak paham al-Qur’an.

Tentu ini menjadi mimpi besar sekaligus pekerjaan rumah bagi para santri saat pulang ke tempat masing-masing. Membangun konsolidasi dengan berbagai pihak lewat Ikan Siswa, Santri, Mahasiswa dan Alumni Urwatul Wutsqo (ISMA’U) untuk membuka ruang-ruang belajar dan pendidikan terjangkau dan berkualitas. Ini hanya tawaran aksi konstruktif ke depan, bisa jadi salah, bisa jadi juga benar.

Kedua, ini tak kalah penting, peran Abah Jombang dalam memengaruhi dan mengubah mental santri. Salah satu ciri khas santri di Pondok UW ialah keistiqomahan dalam amal sholeh. Dahulu, saat pertama mondok di UW, saya bertanya-tanya, kenapa harus ada amal sholeh? Kenapa harus kerja di sawah, bangunan, mebel dan lain-lain? Pertanyaan tersebut kerap muncul dan mengganggu pikiran.

Namun, setalah berada di luar, saya mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut. Kalau ngomongin millenial, kita akan sangat lekat dengan karakter instan. Semua serba cepat, dan semua ingin cepat tanpa proses yang baik dan matang. Barangkali mental ini tertanam dan mengakar pada banyak anak negeri. Kita menyaksikan bahwa masih banyak pemuda yang tak memiliki kesadaran juang, yang mereka pikirkan bagaimana caranya supaya cepat, cepat kaya, cepat pintar, cepat jadi miliarder dan cepat lainnya. Namun, tentu sifat ini berbeda dengan santri yang pernah digembleng di al-Urwatul Wutsqo Jombang. Amal Sholeh yang diperintahkan Abah, saya yakin, salah satu tujuannya ialah membentuk karakter juang pada santri.

Bahwa semua hal butuh proses, tak ada yang instan. Bahkan, mie instan saja butuh proses agar bisa disantap. Selanjutnya, disisi lain amal Sholeh juga membentuk mental baja pada santri. Jika di luar masih banyak yang enggan ke sawah, bangunan, mebel, jahit dan lain-lain. Santri UW tetap Istiqomah dan tak pernah enggan untuk melakukan hal tersebut.

Abah Jombang, telah membumikan Al-Quran melalui aksi konkret beliau. Tak hanya kitab Qur-any (saya bahasakan kitab, jika salah bisa ditegur) tentunya. Namun, jauh dari hal tersebut, praksis Abah dalam manajemen dakwah pendidikan, perlu dikaji secara serius. Karena satu hal, negeri ini tidak bisa diselamatkan melalui politik-ekonomi, tetapi harus melalui pendidikan, sebagaimana dilakukan oleh Abah Jombang.

Sisi lain, kita juga melihat sosok Abah yang sangat peduli kepada kemandirian. Amal Sholeh dan segala bentuk amal usaha yang ada di Pondok Pesantren, tentu menjadi salah satu bukti keseriusan beliau dalam membangun kemandirian. Baik kemandirian Santri maupun pesantren. Abah Jombang, tak hanya menjadikan kemandirian sebagai jargon untuk promosi pondok, tetapi benar-benar dipraksiskan secara konkret.

So, what? barangkali tak ada satupun dari kita (santri) ingin melihat Abah bersedih, maka, satu-satunya cara ialah bersama melanjutkan estafet juang dari Abah Jombang. Terakhir, Al-fatihah untuk segala dedikasi dan juang HS. Abah KH. Muhammad Qoyim Ya’qub Husein Jombang

Hendra Jaya
(Semoga Santri Abah Jombang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *