Dr. Aji Ingatkan Perihal Pentingnya Jati Diri dan Jangkar Kebudayaan

KORANPENELEH.ID, SEMARANG – Dr. Aji Dedi Mulawarman berusaha menyadarkan masyarakat agar tidak ter-drift oleh konsep kemakmuran menggunakan kapitalisme dan konsep pendidikan yang kebarat-baratan. Hal itu dapat mendegradasi jati diri dan jangkar kebudayaan bangsa.

“Untuk menjinakkan masyarakat negara berkembang, barat telah men-drift negeri ini dengan perebutan kemakmuran atas nama kesejahteraan melalui Shock Doctrine (Beyond Korupsi) dan konsep pendidikan yang dibaratkan. Akhirnya menyebabkan Indonesia kehilangan jati diri dan jangkar kebudayaan,” jelas Dr. Aji dalam acara Pelantikan Pengurus Aktivis Peneleh Regional Semarang dan Bedah Buku “2024 Hijrah untuk Negeri” yang diadakan Aktivis Peneleh Regional Semarang, Minggu (30/8/2021).

Pendidikan kebaratan yang dimaksud adalah pendidikan yang tidak mementingkan adab, menjadikan peserta didik sebagai pekerja (kolonialisasi pendidikan), dan lemahnya nilai agama yang ditanamkan.

Dalam kesempatan itu Dr. Aji juga menyinggung perihal bagaimana cara mengontruksi negara menjadi pusat peradaban. Hal itu membuat Sony Setyawan, selaku pembedah dari perspektif milenial menanyakan bukti empiris bahwa Indonesia merupakan salah satu pusat peradaban.

“Salah satunya yakni, peradaban majapahit berupa sumpah palapa yang didesain oleh Gayatri telah tersebar ke seluruh Asia Tenggara (Nusantara), bahkan jejak peradaban Majapahit sampai di Madagaskar,” jawabnya, selaku penulis buku “2024 Hijrah untuk Negeri”.

Dr. Aji pun menegaskan tentang nasionalisme dan Islam. Menurutnya, jati diri umat Islam adalah refleksi ke-Indonesia-an. Bagi beliau manusia Pancasila adalah manusia yang substansi ketuhanannya sangat kuat, manembah gusti, dan berbasis kemandirian. “Pancasila adalah Islam itu sendiri,” tegasnya.

Sedangkan, Dr. Fuad Masud, selaku pembedah dari perspektif ahli pun mengomentari penggunaan istilah-istilah dalam buku yang masih kurang Islami, padahal dari tadi yang dibicarakan adalah ramuan nasionalisme dan Islam. Merespon komentar tersebut Dr. Aji menyampaikan bahwa hal tersebut sebagai upaya bahasa penulisan agar mudah dipahami secara umum.

Di akhir forum, Dr. Aji juga kembali menegaskan bahwa yang benar adalah berpikir nusantara, tapi bertindak global. Contohnya, lahirnya buku ‘2024 Hijrah untuk Negeri’ sebagai antitesis dari seluruh pikiran barat, lalu diaksikan melalui gagasan Paradigma Nusantara dan pembangunan Masjid Kampus.

Ia juga berpesan perihal pentingnya pendidikan dan pengkaderan. Karena itu adalah bagian dari proses kebudayaan yang melampaui masa. “Dengan terbentuknya kepengurusan regional Semarang 2021, semoga dapat menghidupkan gerakan ke-Peneleh-an di kota Semarang dan sekitarnya,” pungkasnya. (Hamida, Zulfa/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *