Webinar Pra Diksarnas, Datangkan Dua Presma Kampus


Webinar Pra Diksarnas Aktivis Peneleh mengundang dua Presma yang menjadi pemantik diskusi, yaitu Ahmad Faruq, Presma Unisma, dan La Ode Agustamil, Presma UTS. Kedua Presma tersebut juga merupakan Alumni Diksarnas aktivis peneleh.

Acara ini dihadiri oleh 50 peserta di ruang virtual zoom pada . Mayoritas peserta adalah Peserta DIKSARNAS 14 yang akan dilaksanakan di Jawa Tengah pada tgl 4-8 Agustus 2021 mendatang. Diskusi tersebut dibuka langsung oleh Muhammad Fadhir selaku Kepala Sekolah Aktivis Peneleh Jang Oetama. Dalam pembukaannya, ia mengungkapkan agar spirit perjuangan pemuda terus dijaga di tengah keadaan krisis ini, sembari mengutip pesan Imam Syafi’ “Pekikkan Takbir 4 kali, bagi pemuda yang berhenti belajar di mas mudanya”.

Dalam pantikannya, Ahmad Faruq (Presma UNISMA) memaparkan bahwa hari ini gerakan pemuda Indonesia di manapun berada harus memotret realitas lebih jauh dengan terjun langsung di tengah Masyarakat. “Hal itu untuk mengetahui keadaan yang ada di akar rumput, dengan begitu diharapkan lahirnya kesadaran baru secara individu maupun kolektif di tengah Pandemi ini,” tutur Ahmad Faruq dalam diskusi tersebut.

Pemantik Kedua La Ode Agustamil (Presma UTS) Menjelaskan dengan memulai dari sejarah gerakan pemuda 45 yang melahirkan kemerdekaan hingga gerakan pemuda 98 yang melahirkan Reformasi. La Ode, menjelaskan bahwa hari ini ruang gerak pemuda sangat luas, salah satunya harus terlibat aktif di media sosial. Artinya, mesti adanya transformasi gerakan ke dunia digital oleh Pemuda.
“Hal ini untuk merelavansikan gerakan pemuda dalam menjawab tantangan dan persoalan zaman,” pungkasnya.

Dalam diskusi tersebut, peserta aktif bertanya dan memberikan pendapatnya soal keadaan hari ini. Seperti salah satu peserta Diksarnas, Zainul Muttaqin melempar isu tentang kebijakan magang yang akan diberikan kepada mahasiswa selama 6 bulan, dengan hitungan 20 SKS. Bagi zainul ini tentu bisa salah beban baru dan tekanan bagi mahasiswa. “Bahkan menjadi eksploitasi tenaga mahasiswa tanpa bayaran,” ungkap Zainul. (Atmaja/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *