Diksarnas XIV: Upaya Melanjutkan Pendidikan di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak diumumkan pada bulan Maret 2020, oleh Fadhir selaku Kepala Sekolah Aktivis Peneleh dimungkinkan menjadi tantangan bagi kesatuan gerakan pemuda. Namun, hal itu bukanlah alasan untuk menghentikan gerakan penyadaran bagi para pemudanya. “Karena tugas bagi pemuda yang sadar adalah menyadarkan yang lain. Tentu saja gerakan penyadaran bersifat terstruktur bukan antisipatif,” terang Kepala Sekolah Aktivis Peneleh tersebut.

Aktivis Peneleh akan menyelenggarakan Pendidikan Dasar Nasional (Diksarnas) ke-14 (XIV) pada 30 Juni-04 Juli 2021 di Semarang, Jawa Tengah. Diksarnas XIV yang akan berlangsung di masa pandemi ini, mengusung tema “Menuju Tahun Emas 2045, Butuhkah Indonesia Generasi Rebahan?” Yang mana merupakan upaya pengkaderan guna “menyiapkan generasi hebat Indonesia di masa mendatang,” tutur Fadhir.

Diksarnas merupakan bagian dari pengkaderan formal Rumah Kader Jang Oetama di bawah naungan Yayasan Peneleh Jang Oetama (YPJO). Sebagaimana jalur pengkaderan lainnya yang dimiliki YPJO seperti Sekolah Aktivis Peneleh Regional (SAPR), Peneleh Youth Volunteer Camp (PYVC), dan Relawan Riset (RR). Sebelumnya, Diksarnas dilaksanakan 2 kali dalam setahun. Namun, kini Diksarnas dilaksanakan 4-5 kali dalam setahun menyesuaikan dengan kebutuhan internal dan eksternal Aktivis Peneleh.

Diksarnas yang akan berlangsung selama 5 hari ini, dilaksanakan secara tatap muka. Pelaksanaan tersebut oleh Fadhir dinyatakan karena, “kami melihat belum pola pelatihan yang mampu mendobrak kesadaran jika pelaksanaannya dilakukan secara daring.” Atas dasar itulah Diksarnas XIV akan dilaksanakan secara tatap muka dengan memperhatikan protokol kesehatan. Sebagaimana yang pernah diterapkan saat Diksarnas XII di Sumenep dan Diksarnas XIII di Sumbawa pada tahun 2021.

Kegiatan pendidikan ini dilaksanakan selama 5 hari dengan berbagai muatan serta rangkaian acara. Peserta Diksarnas XIV bersifat terbuka. Ditujukan untuk seluruh pemuda Indonesia yang ingin menjadi bagian dari gelombang perubahan Aktivis Peneleh. Dibersamai pula oleh Narasumber sampai dengan Fasilitator Nasional.

Aktivis Peneleh melihat pengkaderan menjadi hal utama gerakan ini sehingga dalam keadaan apapun, pandemi Covid-19 kali ini misalnya. Bahwa pengkaderan bukanlah hal-hal yang bisa ditawar-tawar lagi untuk menyiapkan generasi hebat Indonesia di masa mendatang.

Fadhir berharap adanya Diksarnas yang menjadi jalur pengkaderan Aktivis Peneleh YPJO ini, mampu mewujudkan desain keumatan yang telah disusun secara bersama-sama. “Karena, seorang aktivis tidaklah utuh jika hanya menguasai diskursus pemikiran semata, namun gagap saat hendak mengaksikannya,“ ujarnya. Selain itu ia menyampaikan pula bahwa, “lulusan Diksarnas Aktivis Peneleh diharapkan mampu melakukan konsolidasi kebangsaan, yang kemudian diaksikan dalam gerakan nyata berbasis nilai-nilai kebudayaan dan religiositas.” (Alwi/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *