Akhlak Manusia dengan Allah SWT

Oleh: Alwi

Bulan suci Ramadhan kali ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, suasana bahkan kebebasan gerak untuk menjalin silaturahmi pun sungguh terbatas. Pandemi covid-19 yang muncul mulai bulan Maret tahun lalu mengubah akan semua jarak, gerak, serta momen-momen yang biasa muncul ketika situasi normal.

Hikmah besar yang kemudian ditimbulkan adalah setiap insan kembali terbangun dalam kesadaran bahwa segalanya diciptakan atas kehendak Allah SWT, dan kembalinya untuk selamat hanya kepada Allah SWT, yakni dengan mentautkan Allah SWT pada segalanya yang muncul.

Sebagai bagian dari insan demikian termenung memikirkan arah dan akhir Allah SWT membawa penghidupan dengan memunculkan ciptaan-ciptaan saat ini yang menjadi ujian bahkan teguran untuk umat manusia. Pertanyaan pun muncul, bagaimana seorang hamba merenspon ini? Maka, saya sampaikan sepintas fikir sebagai  jawaban,  bahwa kembali untuk mengingat akan hablumminAllah bagaimana hubungan kita dengan Allah SWT, apakah sejauh ini kita tergiring kemudian menjadi manusia yang segala arah fikirnya materialis, maka ini menjadi ancaman bahwa Allah SWT menjauh dari gerak langkah dan fikir kita.

Bulan ramadhan memberikan keberkahan yang lebih dari gerak langkah dan kegiatan baik kita, maka kesempatan saya mengaji dengan cara-cara baru sebagai bentuk normal baru pada beberapa gurunda dengan menanyakan beberapa pertanyaan kemudian membaca serta mendengarkan jawaban-jawabannya, yang saya sampaikan kembali disini sebagai bentuk kongkrit dari spirit dalil yang berbunyi;

Balligu’anniwalauaayah yang artinya “sampaikanlah dariku walau satu ayat”

Melanjutkan apa yang saya dapatkan dari menyempatkan mengaji kepada gurunda, sebagai pengigat dan spirit hati untuk diri, demikian pembaca selanjutnya.

Beranjak dari mengingat kembali bahwa menciptakan manusia adalah untuk semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Ini jelas sekali Allah SWT pertegas dalam Al Quran. “bahwa tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada Ku”. Oleh karena itu, atas dasar ini, seluruh sendi kehidupan manusia, sejatinya adalah dihajatkan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Yang kedua adalah, untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dalam konteks ini, maka manusia diharap agar benar-benar dapat menjalankan fungsi kekhalifahannya dalam mengatur dan menjaga alam ini, sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itulah, manusia dalam perannya sebagai khalifah, sejatinya adalah untuk menjalankan peran-peran Allah SWT. Dengan demikian, apa yang dijalankannya sebagai khalifah, sekali lagi harus sejalan dengan apa yang Allah SWT inginkan.

Kemudian dari  itu bagaimanakah hubungan manusia sebagai insan yang di berikan buah tugas sebagai khalifah di muka bumi. Bahwa sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Manusia dengan dengan Allah SWT memiliki hubungan transedental yang sama sekali tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itulah, pada diri manusia, selain potensi-potensi kemanusiaan yang menjadi fitrahnya yang melekat pada diri masing-masing, ada juga potensi ilahiyah. Potensi Ilahiyah inilah yang harus senantiasa diasah dan terus diasah, dengan satu harapan agar potensi-potensi kemanusiaan tidak cenderung dominan yang bisa membawa dan menggiring manusia menjadi seperti hewan

Secara hakiki, bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang Allah SWT ciptakan. Selain dari bentuk fisik yang sempurna, manusia dikaruniai akal pikiran dan nafsu oleh Allah SWT.

Sungguh manusia adalah satu-satunya penciptaan yang segala kelengkapan dituangkan oleh Allah SWT. Dengan alasan apa ?  Jelas apa yang menjadi asal alasan penciptaan di muka bumi. Namun, itu semua belum selesai sampai disitu sebab memimpin itu tidak hanya untuk umat yang lain akan tetapi kembali untuk diri sendiri juga. Maka akan dipertanyakan bagaiamana selama hidup aplikasi akhlak kepada-NYA. Apakah itu menjadi masalah besar terutama pada generasi khalifah lanjut bagi umat, tentu jelas itu menjadi satu pertanyaan besar yang harus segera dijawab.

Apakah perlu resolusi akhlak ?, ini pertanyaan akhir yang saya tanyakan ketika berlansungnya momen mengaji dengan gurunda kali itu, yang kemudian saya menangkap jawaban yang disampaikan sebagai penutup.

Di zaman ini jauh berbeda dengan zaman-zaman dulu dimana pengaruh yang menimbulkan segala kerusakan-kerusakan akhlak pada diri manusia sangat kurang bahkan tidak ada. Maka kali ini tantangan untuk kuatkan apa yang menjadi perintah Allah SWT dan apa yang semustinya menjadi pengaruh hubungan insan dengan Allah SWTnya semakin dekat. Maka  dari itu “resolusi akhlak itu wajib” ujar gurunda bapak Syukri, diakhir-akhir pembahasan kali itu.

Melanjutkan dari penjelasan gurunda bahwa resolusi ahklak itu dimulai dari setiap peribadi hamba, sebab itu menjadi anjuran Nabi saw. Dalam pesannya yakni “ibda’binafsik” yang artinya mulai dari diri sendiri. Dengan menyematkan apa yang menjadi alasan penciptaan, kemudian bagaimana memahami hubungan kita sebagai hamba dengan Allah SWT cukup jelas tertuang akan bagaimana pemenuhan akhlak manusia dengan Allah SWT. Yang kemudian dengan perbaikan akhlak pribadi masing-masing, akan beranjak pada perbaikan keluarga, selanjutnya kelompok, masyarakat, bangsa dan agama.

Selanjutnya terciptanya gerak akhlak yang seharusnya itu menjadi satu jangkar gerak yang kuat, dan terus menerus menjadi warisan beragama kuat kokoh di gengam generasi lanjut guna men-zelfbestuur-kan bangsa dan agama dengan apa yang sudah di titahkan di dalam tanpa pengaruh dari luarnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.