Memetik Ibrah K.H. Muhammad Qoyim yang Anti Kapitalisme Pendidikan (Bagian II)

Oleh: Hendra Jaya

Tulisan kali ini saya kembali mengungkapkan kekaguman saya atas dedikasi Abah K.H. M. Qoyim Ya’qub (Alm), beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) al-Urwatul Wutsqo, Jombang. Saya rasa di tengah situasi pemuda yang telah kehilangan uswah dalam berpikir dan bergerak, beliau adalah insan yang pas untuk dijadikan uswah dalam berfikir dan bergerak.

Pada tulisan pertama, saya sudah menjelaskan bagaimana Abah Jombang dalam melawan sekulerisasi pendidikan dengan metode Qur-any sebagai metode dakwah melawan sekulerisasi pendidikan. Tulisan kedua masih dalam dakwah pendidikan beliau, kali ini saya mencoba memaparkan bagaimana beliau melawan kapitalisme pendidikan.

Pendidikan merupakan hal paling vital & fundamental bagi suatu bangsa. Sehingga para pendiri Republik dalam pembukaan UUD 1945 menetapkan satu amanah bahwa pemerintah harus ikut serta dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”, karena hanya (anak) bangsa yang cerdas, bermoral dan berakhlaklah yang dapat mengantarkan  masyarakatnya pada kesejahteraan dan kemakmuran.

Maka, pendidikan menjadi hak bagi tiap-tiap anak bangsa, dan telah diatur dalam undang-undang. Pada pasal 9 (1), UU Ni.23/ Tahun 2002 dikatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Namun pada kenyataannya bahwa pendidikan masih jauh dari masyarakat.

Kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan seringkali masih dirasakan sebagai beban berat. Masih ada warga yang tidak dapat sepenuhnya memperoleh pendidikan karena ketiadaan biaya. Pendidikan menjadi barang mewah yang teramat mahal sehingga tidak dapat dijangkau dengan kemampuan uang yang dimiliki. Sehingga tidak mengherankan, setiap awal tahun ajaran baru kita sering membaca di surat kabar, mendengar, atau menyaksikan di televisi, para orangtua mengeluh tentang mahalnya biaya untuk memasukkan anaknya ke sekolah. Bahkan tidak jarang mereka harus menggadaikan barang berharga milikinya hanya sekedar untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah.

Budaya kapitalis telah merambah dunia pendidikan

Dunia pendidikan tidak luput dari kekejaman kapitalisme yang cenderung hanya bicara uang dan keuntungan materil. Pendidikan dikuasai oleh pemilik uang, orang kaya menjadi kelompok elit dalam dunia pendidikan. Sementara kelompok miskin menjadi kelompok termarginalkan, yang hanya menjadi penonton. Budaya yang muncul dalam pendidikan adalah budaya yang cenderung mengajarkan sikap hedonism, materialism, pragmatism dan budaya serba instan.

Dalam perjalanan dakwah pendidikan abah KH. M. Qoyim Ya’qub, beliau adalah orang yang sadar dan tercerahkan. Di saat ada pihak yang mendirikan lembaga pendidikan sebagai lahan bisnis untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memedulikan muridnya harus cerdas, bermoral, berakhlak atau tidak, yang terpenting adalah mendapat keutungan. Namun, abah Jombang justru sebaliknya, pendidikan benar-benar beliau jadikan ladang dakwah untuk mencerdasakan anak bangsa, cerdas hati, cerdas fikir dan cerdas perilaku.

Motto “Tiada biaya bukan penghalang mencari ilmu, membiayai ilmu sama dengan jihad fi sabililah“, menjadi karakteristik pendidikan Urwatul Wutsqo dalam melawan kapitalisasi pendidikan. Saat biaya pendidikan mahal, saat pendidikan dijadikan bisnis, Abah Jombang menjadi pahlawan pendidikan bagi kaum marginal, biaya pendidikan dimudahkan, bahkan jika tidak punya biaya maka digratiskan, terpenting mau dan komitmen untuk belajar.

Pendidikan dari jenjang RA sampai perguruan tinggi beliau mudahkan biayanya. Tiada biaya bukan penghalang mencari ilmu. Beliau mengajarkan dengan teladan yang baik kepada santri-santrinya. Bahkan, sebelum beliau wafat salah satu pesan kepada istri beliau, sebagaimana yang diceritakan kepada NU Online Jombang ialah agar semua sistem keuangan di lembaga UW harus tetap sama yaitu bebas SPP.

Dalam Tarikh Nabi Muhammad, diceritakan bahwa ketika beliau akan wafat, yang disebut ialah ummati, ummati, ummati. Begitu pula Abah Jombang, hal yang dipikirkan oleh beliau sebelum wafat ialah santri dan  jemaahnya. Semoga beliau husnul khotimah dan dikumpulkan bersama orang-orang sholeh. Al-Fatihah.

2 thoughts on “Memetik Ibrah K.H. Muhammad Qoyim yang Anti Kapitalisme Pendidikan (Bagian II)

  • Januari 9, 2021 pada 1:04 pm
    Permalink

    Masyaallah..
    Idola yg sebenarnya ..
    Lahul faatikhah..🤲🤲🤲

    Balas
  • Januari 11, 2021 pada 1:13 am
    Permalink

    Semoga kita, khususnya para santrinya Abah bisa meniru perjuangan beliau.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *