62 Tahun NTB: Benarkah Sudah Gemilang?

Hendra Jaya

Jika dalam kehidupan manusia, 62 tahun merupakan usia yang sudah tua dan sudah dangat matang. Usia 62 tahun bisa jadi menjadi pertanda bawah ia sudah melakukan banyak hal, sudah puas dengan asam dan manisnya dunia, pun dengan pengalaman 62 tahun kurasa tidak kurang untuk sekedar memahami dunia.

Dirgahayu Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ke-62, usia yang sekali lagi tergolong tidak muda lagi. Visi NTB Gemilang dari Gubernur NTB perlu kita refleksikan bersama dalam tiap aspek kehidupan. Mulai dari keagamaan, pendidikan, kebudayaan, ekonomi, sosial, politik, dan lain sebagainya.

Gemilang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan bercahaya terang. Tentu, ini doa baik yang perlu kita aminkan bersama-sama. Akan tetapi, doa yang baik akan percuma jika tidak ada ikhtiar nyata sebagai bukti penghambaan kepada Tuhan. Lalu, sejauh mana cahaya terang menyinari NTB?

Pertama, kita mengapresisasi banyak gebrakan-gebrakan baru dari Pemprov NTB, mulai dari sektor pendidikan misalnya membuka beasiswa bagi anak-anak NTB, memajukan ekonomi masyarakat dengan memajukan UMKM, perhatian terhadap petani, walau akhir-akhir ini muncul keluhan petani terhadap pupuk yang berkurang, dan masih banyak terobosan baru dari Gubernur NTB, Zulkieflimansyah ini.

Salah satu potret minimnya akses di Kecamatan Orong Telu, Sumbawa. (Doc. Istimewa)

Namun, masih dalam hal yang sama, NTB khususnya Kabupaten Sumbawa wabilkhusus di Kecamatan Orong Telu, masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Kali ini saya ingin mengajak kita jauh berjalan ke Orong Telu, melihat satu persatu dimensi kehidupan masyarakat yang penuh dengan ketimpangan.

Pertama, pendidikan. Secara umum pendidikan di Orong Telu jauh tertinggal jika dibandingkan dengan kecamatan lain. Mulai dari sarana dan prasarana hingga sistem yang serba sulit terutama di tengah pandemik seperti saat ini.

Saya ingin mengajak pembaca berjalan ke ujung Orong Telu, tepatnya Dusun Sodok, Desa Mungkin. Sodok merupakan komplek transmigrasi dari masyarakat Lombok ke Orong Telu, Sumbawa. Dusun ini terhitung sudah 5-6 tahun berdiri. Sodok memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat luar biasa. Hasil bumi mereka pertahun sangat melimpah.

Namun, jika melihat Sodok dari kacamata pendidikan, hal itu sangat miris dan memilukan. Bagaimana tidak? Dari segi  fasilitas sekolah, bangunan seadaanya, papan tulis kapur, dengan tembok dari bambu. Guru pun, terakhir ketika saya silaturahmi ke sana adalah relawan dan sukarelawan yang ikhlas mendidik anak bangsa tanpa ada perhatian dari pemerintah. Itu sedikit dari banyak gambaran kepiluan, kesenjangan dan kepincangan pendidikan di Sumbawa. Pemuda di sana juga banyak yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dikarenakan keterbatasan biaya.

Kedua, mari menyoroti perkembangan ekonomi di kecamatan yang kalau saya bahasakan selalu dianaktirikan oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi.

(Doc. Istimewa)

Masyarakat Orong Telu mayoritas petani. Seperti, padi, kacang hijau, kedelai, hingga kini rata-rata beralih ke jagung. Hasil pertanian di Orong Telu alhamdulillah selalu melimpah tiap tahun. Walau kadang, petani juga harus bayar hutang yang cukup banyak untuk beli bibit, pupuk, sewa mesin saat panen dan gaji untuk buruh.  Sebagian, karena harga jual saat panen turun, para petani masih harus berhutang kembali untuk melunasi hutangnya. Sunggu pilu. Tanah dan hasil bumi sudah tidak lagi milik rakyat. Rakyat hanya pekerja, mereka yang bermodal, si perut besar dan si mata sipit yang menjadi tuan.

Saat musim tanam seperti ini pun, kadang masyarakat kesulitan mendapat benih. Jika dapat, harganya melambung tinggi. Begitu pula seperti yang saya sampaikan di pembuka tadi, petani saat ini kesulitan untuk mendapat pupuk. Kawan saya yang sekarang sedang mendampingi petani di Sumbawa, bercerita petani selalu mengeluh masalah pupuk. Apalagi di Orong Telu, dengan kondisi infrastruktur yang sangat tidak manusiawi. Mulai dari jembatan yang belum kunjung rampung, hingga luapan sungai yang menghalangi mereka untuk ke kota. Padahal, di kotalah masyarakat dapat mendapatkan benih, pupuk, dan lain-lain. Kalaupun bisa, butuh waktu berhari-hari. Anda yang tinggal di kota mungkin tidak bisa membayangkan hal tersebut.

Iya, semoga di tengah kontestasi politik di Kabupaten Sumbawa, para wakil rakyat, pemerintah kabupaten hingga provinsi bisa melek dengan keadaan masyarakat Orong Telu yang terpenjara tanpa salah dan dosa.

Saya ingat sekali, ketika membawa teman dari Kota Prata, Lombok menuju rumah saya di Orong Telu. Di luar dugaan dan ekspektasi dia, bahwa jalan menuju Orong Telu sangat memprihatinkan. Sepanjang jalan, dia menanyakan kerja dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) hingga Pemerintah Provinsi (Pemprov). Lalu, diakhiri dengan doa semoga pemerintah tidak diazab. Sesekali saya tertawa, sesekali saya aminkan doa baik darinya.

Oke, masih lanjut di Orong Telu. Perhatian yang luput oleh pemerintah adalah kondisi hutan di Orong Telu yang harus segera diselamatkan, bukan malah pemerintah menjadi bagian dari perusak bumi. Tentu, masyarakat tidak bisa serta merta bisa disalahkan.  Namun, dalam hal ini, pemerintah dan masyarakat harus bertanggung jawab bersama. Pemerintah harus punya manejemen untuk hutan, Undang-Undang yang berlaku harus diterapkan dengan tegas, polisi kehutanan harus menjadi bagian dari pelestarian hutan, bukan malah kong kali kong dengan tengkulak dan juragan kayu.

Iya, masih banyak kesenjangan lain yang terjadi di satu kecamatan, belum lagi membahas satu kabupaten, yang rasanya akan menguras seluruh isi kepala. Banyak hal berikut menjadi tanggung jawab moral bagi pemerintah baik di kabupaten maupun provinsi demi mewujudkan NTB Gemilang.

Dirgahayu NTB, semoga cahaya terangmu tidak hanya sampai pada mereka pemilik modal, pemerintah dan para dewa[n] yang terhormat. Namun, mampu benar-benar menerangi dari akar rumput.

Selamat Ulang Tahun ke-62 NTB. Cahayamu dinantikan oleh anak-anak di pelosok Sumbawa. Salam keadilan, salam kesejahteraan.

Editor : Meilinda

2 Replies to “62 Tahun NTB: Benarkah Sudah Gemilang?

  1. Semoga di tahun tahun mendatang akses jalan ke kecamatan Orong telu bisa terealisasi sesuai dengan harapan kita bersama, dan semoga dengan izin Allah pemerintah mendatang akan memperhatikan dan memprioritaskan kecamatan Orong telu ,Dirgahayu NTB yang ke 62 ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *