Aji Dedi Mulawarman: Jika Ingin Menang Indonesia Harus Menggerakkan Cultural Drift

Malang KORANPENELEH.ID – Rabu (22/04/2020) Yayasan Rumah Peneleh kembali mengadakan International Online Guest Lecture V, diikuti oleh 326 peserta membuat panitia kewalahan karena zoom hanya menampung 100 peserta, hingga video streaming instagram menjadi alternatif kedua.

Kali ini tema yang diangkat ialah “World Outlook After the Corona Pandemic”. Physical distancing menjadi jeda untuk manusia memikirkan masa depan peradaban dunia, terutama nasib manusia di tengan pandemi. Peradaban Timur dan Barat sudah hampir kalah, sains dan teklogi sekuler sudah di ambang kematian, bisa jadi saat ini menjadi tepat untuk Islam mengkonstruksi peradaban ideal berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.

Arah peradaban besar bernama Indonesia Dikonstrusi sejak kini, terutama rakyat sebagai kompas penentu arah, empati sosial adalah jalan penyelesain covid-19. Dr. Aji Dedi Mulawarman mengatakan “Rakyat sebagai pusat kekuatan dan ketahanan nasional, empati sosial dan kesadaran the ethics of care untuk menyelesaikan pandemik secara global

Bisa jadi covid-19 merupakan pertanda bahwa dunia sedang melakukan perubah besar-besaran. Ada dua arah perubahan, bisa negativisme atau positivisme.

Dr. Aji Dedi Mulawarman saat menyampaikan materi

Dunia sepertinya sedang melakukan antitesis perubahannya menuju negativisme yang biasanya dianggap sebagai “buruk”, bukan menuju positivisme yang biasanya dianggap “baik”. Dunia kita sepertinya sedang melawan logika Evolusi Darwinisme yang masuk dalam kerangka penting orientasi pembangunan dunia berorientasi Linieritas Pertumbuhan”. Jelas ketua Yayasan Rumah Peneleh tersebut.

Semuanya memang hanya berkutat pada mempertahankan Pertumbuhan Dari Kurva Normal menuju Sigmoid. Dengan logika positivisme seperti itulah maka statistik dapat mengukur seberapa besar kita dapat menyelesaikan permasalahan pertumbuhan menuju puncaknya dan “wajib” turun setelahnya. Agar tidak terjadi kehancuran maka kurve sigmoid pertumbuhan harus dikreasi. Itulah yang disebut dengan kreasi modernisme berbasis progres ala Comte, Hegel, Marx, Bury, Nisbet, dan lainnya, jelas dosen Universitas Brawijaya Tersebut.

Namun yang jelas, hari ini Indonesia (Islam) harus mulai bergerak untuk mengkonstruksi realitas, karena hari ini Barat dan Timur semua mengarah pada WEIRD Societies. Lebih lenjud Aji Dedi menjelaskan “Baik Barat maupun Jalur Sutra Baru Semuanya mengarah pada logika global bernama WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic) Societies”

Namun, lanjut beliau “Apa cukup dunia dipandang dengan cara historical progress idea seperti itu Memahami Dunia Hanya dalam ruang WEIRD Societies atau Techno Humanisme tak sepenuhnya lugu seperti itu. Malah, sebenarnya keduanya memang jalin berkelindan tak ubahnya Reseptor dan Enzim

Hari ini kita sedang melihat pertempuran antara dunia Barat dan Timur, Indonesia menjadi negara dalam ayunan peradaban, jika ingin menjadi pemenang maka harus menggerakkan cultural drift bukan istitutional drift.

Saya telah menulis pada tahun 2016 lalu bahwa sejarah sangat terkonstruksi pada logika Institututional Drift seperti dikatakan Acemoglu dan Robinson yang ditandai dengan banyak fenomena jatuh bangunnya peradaban masa lalu yang terlalu berkutat pada diskursus kebejatan politik-ekonomi. Mereka berpendapat bahwa peradaban masa itu akan tergusur oleh kekuatan negara atau peradaban yang menjadi pemimpin peradaban kemudian”, tegas Aji Dedi.

Namun Institutional Drift kini telah runtuh, Terbukti Logika Institutional Drift ala Acemoglu dan Robinson telah runtuh setelah Manusia menjadi makin liar dengan keinginannya menjadi Tuhan di Dunia. Seluruh negara luluh lantak, tesis menguatnya Sains dan Teknologi dalam sejarah ala Harari luluh lantak Seluruh pemimpin negeri dan negeri-negeri papan atas tak pelak ikut runtuh Kita sedang mengalami Disrupsi Global bukan oleh kuasa AI dan IT, tetapi Karena kegagalan mengendalikan alam dan sains itu sendir.

Hari ini kita harus keluar dari logika tersebut, sebagaimana dikemukakan Aji Dedi “Kita harus keluar dari tesis Institutional Drift ala Acemoglu dan Robinson tersebut, karena pada dasarnya kekuatan Cultural Drift sebenarnya lebih dahsyat yang dapat menjadi peubah sekaligus pemicu munculnya negeri dan pemimpin yang memiliki moralitas peradaban”.

Contoh Cultural Drift berbasis moralitas sudah banyak terjadi di masa lalu seperti kemunculan peradaban Islam yang umurnya jauh hingga ribuan tahun sejak tahun 624 dan mencapai puncaknya tahun 1324 hingga 1924. Peradaban Barat berbasis Institutional Drift rata-rata hanya berumur 300-500 tahun dan sedang mengalami collapse-seperti kita lihat sekarang, lanjut Aji Dedi Mulawarman. (jay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *